Target ‘Net-Zero Emisi Karbon’ Dan Krisis Energi Tahun 2021

0 202

 

Oleh Servas Pandur (Direktur Risk Consulting Group, Jakarta)

 

 Kamis 22 April 2021, Briefing Room Gedung Putih (White House) merilis rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) Presiden Joe Biden meraih tata-ekonomi net-zero emisi karbon (CO2) jelang tahun 2050. (White House, 2021). Target AS ini bakal diuji dalam forum Climate Change Conference of the Parties (COP26) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 1-12 November 2021 di Glasgow, Scotlandia, Inggris. Alasannya, saat ini, AS menempati nomor 2 pelepas jutaan ton emisi karbon per tahun. (lihat tabel).

 

Perubahan iklim dan kebutuhan dekarbonisasi ekosistem energi, melahirkan kebutuhan emisi karbon hingga level net-zero. COP26 mendukung target ini usai macet atau nyaris gagal sejak perjanjian United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tahun 1994 hingga Paris Agreement 2015 saat wakil 195 negara menghadiri COP21 di Paris, Perancis.

Tabel. Emisi karbon (jutaan ton per tahun) sejumlah negara (sumber: Global Carbon Project, 2020)

 

Kini pemanasan global melampaui 1,2 derajat Celcius dari level abad 19 M. Maka COP26 dilabel ‘kesempatan terakhir’ pemimpin dunia meredam perubahan iklim dan pemanasan global melalui target net-zero karbon tahun 2050. Presiden Tiongkok Xi Jinping ‘bersembunyi’ di balik tembok besar dari agenda COP26. (Will Gralsgow, 2021) Tahun 2020, Tiongkok merilis target netralitas karbon jelang tahun 2060, tanpa merinci programnya. (David Brown, 2021).

 

Dari New Delhi, India, awal Oktober 2021 jelang ECOP 26 PBB di Glasgow, Pemerintah India hanya ancang-ancang menolak target emisi karbo net-zero. (Sanjeev Miglani, 2021; A. Ghosal, 28/10/2021) Sebab ekonomi India sangat bergantung pada energi fosil, khususnya batu-bara. Dari Brussel (Belgia) akhir September 2021, Uni Eropa, Italia dan Inggris mendesak Rusia agar meraih target net-zero emisi karbon tahun 2050.

***

Selama 200 tahun terakhir, penduduk planet Bumi bergantung pada pasokan energi bahan bakar fosil (minyak, gas, batu-bara). Bahan bakar fosil menggerakan revolusi industri di Eropa abad 18-19 M. Namun, akhir-akhir ini makin banyak riset menemukan bahwa emisi gas rumah kaca dan pemanasan global dipicu oleh kegiatan manusia di sektor energi bahan bakar fosil. (Reijnders and Huijbregts, 2007; Karmaker et al, 2020; Martins et al, 2018).

 

Karena itu, banyak negara berupaya meredam perubahan iklim dengan mengurangi stok energi bahan bakar fosil dan meningkatkan stok sumber-sumber daya terbarukan atau EBT (renewable energy). (Lazarus and van Asselt, 2018; Leonard et al, 2020). Tren ini melahirkan inovasi teknologi khususnya teknologi bateri, kebijakan dan lonjakan investasi sektor energi baru terbarukan (EBT). Risikonya, investasi sektor energi fosil berkurang.

 

Namun, teknologi bateri belum cukup menyimpan EBT khususnya melayani kebutuhan energi negara atau grid nasional. Lain halnya batu-bara atau minyak. Ini memicu risiko dan vacuum, khususnya pasca krisis pandemi Covid-19, lonjakan kebutuhan energi sulit dipasok oleh EBT. Akibatnya, terjadi krisis energi skala global, misalnya krisis listrik dan lonjakan harga batu-bara di Tiongkok dan India; kelangkaan pasokan energi fosil, lonjakan harga gas dan minyak di negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Brazil (Amerika Selatan). Krisis energi terutama terjadi pada tiga negara pelepas karbon terbesar di dunia saat ini. ***

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.