Messi dan Geng Rosario Plus di PSG, Mampukah Merengkuh Trofi Eropa?

0 87

Transfer Lionel Messi dari Barcelona ke Paris Saint-Germain (PSG) mungkin masih menyisakan keterkejutan. Tapi, pilihan Messi pada klub Ibukota Perancis bukanlah hal mengejutkan bagi publik sepak bola Argentina. Mereka paham magnet apa di luar kekuatan finansial yang menarik Messi ke Paris, daya tarik yang tidak dimiliki klub-klub raksasa Inggris.

Meskipun rayuan untuk bergabung datang dari berbagai klub dengan kemampuan finansial yang kuat, opsi Messi bukan sekadar pertimbangan teknis sepak bola. Ada pertimbangan nonteknis yang beberapa kali diungkapkan Messi: lingkungan yang nyaman bagi dia dan keluarga. Lingkungan itu telah tersedia di PSG. Bukan lantaran Kota Paris sebagai kota mode yang telah terkenal sedunia. Bukan juga karena kemampuan Qatar Sports Investment, pemilik PSG, untuk menyediakan fasilitas kelas satu bagi Messi dan keluarganya.

Kenyamanan yang dimaksud Messi adalah lingkungan kampung halamannya. Messi dan istri, Antonella Roccuzzo berasal dari Rosario, kota di Barat Laut Buenos Aires, Ibukota Argentina. Di PSG sudah bercokol Geng Rosario. Mereka adalah Angel di Maria, Mauro Icardi serta sang pelatih Mauricio Pochettino.

Angel Di Maria sudah lama dikenal sebagai sahabat Leo, selain Kun Aguero tentunya. Di Maria adalah satu dari lingkup terbatas bintang sepak bola, di luar pemain Barcelona, yang diundang Messi menghadiri resepsi pernikahan dia yang dilangsungkan di City Center Rosario, 1 Juli 2017 silam. Di Maria juga yang menemani Messi di private jet dalam penerbangan pulang kampung seusai memenangi Copa America pada Juli lalu.

Mauro Icardi adalah anak Rosario yang mengikuti jejak Messi. Sebagaimana sang peraih 6 Ballon d’Or, Icardi meninggalkan kampung halaman saat masih tergolong belia. Icardi menempuh akademi sepak bola di Spanyol, termasuk bergabung ke La Masia, Akademi Sepakbola Barcelona (2008-2011). Striker yang tergolong bengal ini kemudian direkrut klub Italia, Sampdoria dan selanjutnya bersinar bersama Inter Milan.

Sementara itu, Pochettino bukan warga asli kota Rosario. Meski demikian, kampung asalnya tak jauh dari kota kelahiran Messi. Lebih lagi, sang entrenador mengawali karir yunior (1986-89) hingga ke ke level senior (1989-93) di Klub Newell’s Old Boys, tim sepak bola yang berbasis di Rosario. Klub ini juga yang membina Messi sejak usia 6 tahun, sebelum ditransfer ke Barcelona pada usia 13 tahun.

Tidak hanya trio pemain-pelatih itu saja yang bisa dikategorikan Geng Rosario di PSG. Di Staf kepelatihan juga ada Sebastiano Pochettino yang tak lain adalah anak sang pelatih utama. Selain itu, ada juga Miguel D’Agostino yang merupakan partner Pochettino di lini pertahanan semasa membela Newell’s Old Boys, Rosario.

Messi akan melengkapi eksistensi Geng Rosario di PSG, suatu lingkungan ideal yang diharapkan akan menopang upaya klub merengkuh trofi demi trofi, terutama Trofi Liga Champions untuk pertama kali. Lingkungan PSG semakin ideal bagi Messi karena keberadaan beberapa pemain yang sudah dikenal dekat oleh Messi sebelumnya.

Nama pertama tentunya Neymar. Lawan Messi di partai final Copa America ini adalah partner lini depan Messi di Barcelona. Bersama Luis Suarez, mereka dikenal sebagai trisula MSN yang sangat disegani lawan. Ada juga Leandro Paredes, kompatriot Messi yang baru saja bahu-membahu membawa Argentina meraih Trofi Copa America. Selain itu, ada Marco Verratti, gelandang asal Italia yang dikagumi La Pulga. Keduanya sempat kedapatan dinner bareng di Ibiza, Spanyol pada 2017. Isu transfer Verratti ke Barcelona pun berhembus kencang saat itu.

Tiga nama terakhir ini, bersama Angel Di Maria, merupakan bintang-bintang PSG yang makan malam bersama Messi di Ibiza, 24 jam sebelum info transfer secara resmi diumumkan Barcelona. Mereka merupakan bagian dari nama-nama pertama yang mendapatkan konfirmasi transfer langsung dari mulut Messi. Keberadaan ketiga teman ini juga menjadi nilai plus bagi pilihan Messi ke PSG.

Namun, lingkungan yang nyaman bagi Messi di PSG tidak selalu berarti sebaliknya. Pastilah ada pihak yang terusik kenyamanannya dengan kehadiran Messi. Reaksi awal telah diperlihatkan Kylian Mbappe. Bintang muda PSG dan Timnas Perancis ini dikabarkan meminta kepada manajemen klub untuk dijual. Apakah keputusan tersebut memiliki kaitan dengan keberadaan Geng Rosario Plus?

Mbappe mungkin menyadari faktor klik lini depan yang terbentuk oleh Geng Rosario Plus: Messi, Icardi, dan Di Maria plus Neymar. Padahal, lini serang itu juga yang menjadi spot bermain paling ideal bagi Mbappe dan dia bukan bagian dari geng itu. Secara kualitas, teknis, dan performa di lapangan, menjadikan Mbappe sebagai pelapis tentu bukan opsi terbaik bagi Pocchetino.

Namun, faktor nonteknis, faktor klik dan kerjasama tim hingga pertimbangan pragmatis (hasil) turut menentukan pencapaian target. Bukan tak mungkin pertimbangan tersebut akan diterapkan Pocchetino dalam penentuan formasi. Aspek ini tentu telah dipertimbangkan Mbappe. Maka, permintaan untuk dilepas PSG bisa jadi sebatas upaya untuk memastikan posisi utama dan kesempatan bermain bagi dirinya tidak hilang. Bila jaminan tersebut tak disodorkan Pocchetino, bila Pocchetino tetap memprioritaskan Messi & co maka sangat wajar bila Mbappe memilih hengkang.

Situasi Mbappe hanya satu contoh yang telah tersingkap bahwa lingkungan yang nyaman bagi Messi belum tentu mendukung soliditas tim. Fakta ini juga sekaligus menjadi tantangan bagi Geng Rosario. Apakah keberadaan Geng Rosario Plus di PSG akan mengantar tim tersebut mengoleksi trofi juara yang lebih banyak? Mampukah PSG menjangkau mimpi meraih trofi juara Eropa yang belum kesampaian? Messi dan Geng Rosario Plus perlu membuktikan.

Penulis : EMANUEL GHALE

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.