Kontrasnya Seruan Surya Paloh dan Sikap Gubernur NTT

0 1.519

Ada yang bertolak belakang antara harapan dan seruan Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dengan tindakan kader partai di lapangan.

Dalam pertemuan para petinggi partai politik koalisi pendukung pemerintah di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (25/8/2021) lalu, Surya Paloh, mewakili Partai Nasdem, mengapresiasi kerja keras dan kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19. Kerja keras tersebut mencakup upaya untuk membangun kesadaran masyarakat.

“Kita sedang membangun kesadaran, kesadaran masyarakat kita untuk bisa berperan aktif menjadi warga negara yang mengerti hak dan kewajiban yang harus mereka harus sertakan,” ujar Paloh.

Menurut dia, masalah muncul karena tingkat disiplin pribadi maupun komunal sebagai bangsa serta etos masyarakat yang masih lemah. Sebab itu, dia menilai kondisi ekonomi tanpa pertumbuhan pun layak dianggap sebagai satu kemenangan sebagai negara.

Seruan Surya Paloh

Seruan Ketum Nasdem tentang membangun kesadaran pribadi dan kesadaran sebagai bangsa tersebut cukup kontras dengan tindakan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang adalah kader Partai Nasdem.

Dua hari setelah pertemuan di Istana Kepresidenan, Jumat (27/8), mantan Ketua Fraksi Nasdem di DPR RI itu bersama rombongan pejabat provinsi dan kabupaten di NTT menghadiri acara yang digelar di Pantai Otan, Semau, Kupang. Acara yang dijelaskan sebagai pengukuhan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten & Kota se-NTT itu digelar secara meriah dengan disertai panggung hiburan.

Dalam sejumlah tayangan video yang disebar melalui media sosial, terlihat bahwa terjadi kerumunan di area panggung. Banyak orang yang berkerumun di lokasi acara terlihat tidak mengenakan masker. Ada juga yang mengenakan masker untuk sebatas menutupi dagu.

Acara Gubernur NTT tersebut dinilai telah melanggar protokol kesehatan. Pelanggaran tersebut bisa berdampak negatif mengingat wilayah Kupang masih termasuk daerah yang terkategori menerapkan PPKM Level IV. Bahkan, pada pertengahan Agustus lalu, provinsi ini sempat menjadi penyumbang kasus tertinggi se-Indonesia.

Bila disejajarkan dengan aturan resepsi yang ditetapkan dalam PPKM Level IV, maka kerumunan yang terjadi jelas telah melanggar aturan. Pasalnya, salah satu yang diatur dalam PPKM level IV adalah acara resepsi hanya boleh dihadiri maksimal 30 orang. Panggung hiburan di Pantai Otan, sebagaimana tayangan sejumlah video, jelas menghadirkan kerumunan dengan jumlah orang yang melampaui batas yang ditentukan.

Data yang disajikan situs Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 NTT menunjukkan per 30 Agustus 2021 secara total telah terkonfirmasi 51.908 kasus Covid-19 di NTT. Dalam perbandingan kasus Covid terkonfirmasi, angka yang ditunjukkan Provinsi NTT setara dengan gabungan jumlah kasus di empat negara, yaitu Syria, Taiwan, Chad, dan Selandia Baru. Bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga, Timor Leste yang berbatasan langsung dengan NTT, jumlah kasus di provinsi tersebut tiga kali lipat lebih tinggi.

Tak heran bila muncul berbagai reaksi negatif dan kecaman di media sosial atas tindakan Gubernur NTT dan jajarannya. Kepemimpinan Viktor Laiskodat dipertanyakan. Keteladanan yang seharusnya diperlihatkan seorang pemimpin dalam menaati prokes justru dikangkangi begitu saja.

Sikap Nasdem

Kerja keras Pemerintah Pusat yang dipuji Surya Paloh ternyata tidak menular ke daerah yang dipimpin oleh kader partainya sendiri. Disiplin diri dan etos yang diharapkan Paloh dari rakyat Indonesia tampaknya terlalu semu bila kader-kader partainya sendiri secara kasat mata melakukan tindakan yang mengabaikan prokes.

Untuk itu, teguran kepada Gubernur NTT seharusnya tak hanya datang dari Satgas Covid-19. Partai Nasdem pun perlu memberikan teguran serupa. Apalagi, pernyataan Surya Paloh dan acara Gubernur NTT cuma berjarak dua hari. Seharusnya wanti-wanti dari sang ketum belum lekang dari ingatan Laiskodat.

Teguran terhadap kader partai yang juga kepala daerah sudah pernah disampaikan oleh salah satu partai politik. Teguran tersebut bahkan disertai permintaan maaf secara terbuka kepada publik atas keteladan buruk seorang pemimpin. Langkah itu layak dicontohi Partai Nasdem dan Surya Paloh. Akan lebih positif lagi jika teguran tersebut disertai sanksi yang sesuai. Karena bagaimana pun Viktor Lasikodat secara telanjang telah mempertontonkan pengabaian atas harapan yang disampaikan ketum partai.

Lagi pula, pernyataan Surya Paloh disampaikan di depan Presiden Joko Widodo dan jajaran petinggi parpol lain. Tindakan kader partainya yang secara terbuka melakukan pelanggaran prokes dan telah diberitakan berbagai media tentu telah diketahui para politisi yang hadir beserta Presiden Jokowi. Bisa dipastikan mereka masih ingat kata-kata Ketum Nasdem.

Dukungan Nasdem pada penanganan Covid yang disuarakan Surya Paloh saat itu seakan-akan sebatas kata-kata manis di depan Presiden Jokowi dan jajaran menteri karena kelakuan kadernya yang kontras dengan janji Paloh. Maka tindakan kader Nasdem di Kupang itu layaknya tamparan di wajah Paloh. Akan memalukan jika tidak ada teguran atau sanksi tegas dari internal partai

Teguran semakin pantas dilayangkan mengingat hingga saat ini Gubernur NTT terkesan tidak mempedulikan pelanggaran prokes yang telah dilakukan secara terbuka. Ini berbeda sekali dengan sikap Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang meminta maaf atas resepsi acara ulang tahun di kediaman gubernur yang dianggap melanggara prokes. Maka, Partai Nasdem selayaknya mendorong kadernya ini untuk memberikan klarifikasi secara terbuka beserta permintaan maaf sebagaimana sikap Khofifah.

 

Penulis: Iman Febry

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.