Anatomi Krisis Energi Tahun 2021

0 207

Oleh Servas Pandur
(Direktur Risk Consulting Group, Jakarta)

 

Banyak negara terkena dampak krisis energi global sejak awal 2021. Saat beranjak pulih dari krisis pandemi Covid-19, Eropa dan Asia bersaing mendapat pasokan cadangan gas Rusia, Amerika Serikat, dan Norwegia. Akibatnya, harga gas naik kira-kira 400% sejak awal tahun pada pasar spot; biaya listrik melonjak. Harga gas fluktuatif. (Sophie Mellor, 2021)

Di Inggris, rakasa industri pupuk CF Industries Holdings asal Amerika Serikat, tutup sementara; Perusahan Yara asal Norwegia pangkas sejumlah produksi di zona Eropa. Sophie Mellor (2021) menyebut ini adalah efek domino krisis energi tahun 2021. Misalnya, pengadaan yam dan ham, minuman bersoda, dan es krim di Inggris, berisiko terganggu akibat krisis energi.

Krisis energi juga melanda India yang menghadapi krisis listrik terburuk beberapa tahun terakhir. Akibatnya, harga minyak dan bahan bakar naik ke rekor tertinggi. Risiko lanjutan, defisit perdagangan menyentuh level tertinggi selama 14 tahun terakhir. India mengandalkan 85% minyak impor dari Timur Tengah melalui investasi minyak dan gas Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC). (Nidhi Verma et al, 2021)

Sekitar 70% listrik di India, dipasok dari listrik berbahan bakar batu-bara. Awal Oktober 2021, sekitar 108 dari total 135 pembangkit listrik itu mengalami kelangkaan stok. (Krutika Pathi, 2021) Harga batu-bara asal Indonesia, pemasok batu-bara ke India, naik ke 162 dollar AS per ton (Oktober 2021) dari 86,68 dollar AS per ton (April 2021). Lonjakan harga ini dipicu oleh lonjakan permintaan dari Tiongkok (Associated Press, 8/10/2021)

Dari London (Inggris), Kamis 14 Oktober 2021, badan energi dunia International Energy Agency (IEA) merilis laporan bahwa krisis energi dapat merapuhkan pemulihan ekonomi dunia pasca pandemi Covid 19. Krisis energi global memicu lonjakan permintaan minyak sekitar 500 ribu barel per hari (bph) dan inflasi melanda banyak negara yang memperlambat kegiatan industri-industri. (Noah Browning et al, 2021)

Info SPBU tanpa bahan bakar di Hemel Hempstead, Inggris, 29 September, 2021 (foto: Reuters/Matthew Childs); (kanan) Info pintu masuk ke SPBU supermarket ASDA di London, 29 September 2021 (foto: AFP)

Awal Oktober 2021, SPBU di Inggris tanpa pasokan energi; harga listrik Uni Eropa naik tajam jelang musim dingin; Tiongkok merilis kebijakan jatah listrik sektor bisnis. Karena harga-harga minyak, gas, dan batu-bara naik tajam. Kartel minyak organisasi produsen minyak OPEC membatasi pasokan minyak. Di sisi lain, transportasi global tersendat selama Covid-19 sehingga distribusi bahan bakar terganggu. (Richard Valdmanis et al, 2021)

Respons kebijakan terhadap krisis energi tahun 2021 sangat beragam. Misalnya, Oktober 2021, Uni Eropa membantu Moldova sebesar 70 juta dollar AS guna mengatasi krisis energi. (Kate Abnett et al, 2021) Tiongkok liberalisasi harga listrik berbahan bakar batu-bara guna kendali risiko krisis energi. (Muyu Xu, et al, 2021) Hingga akhir September 2021, sekitar 44% kegiatan industri Tiongkok terganggu oleh krisis listrik. (Reuters, 30/9/2021)

Akhir Oktober 2021, harga bensin di AS naik lebih dari 50% sejak tahun 2020. Harga gas naik lebih dari 170% sejak awal tahun 2021 di Uni Eropa. (Samuel Petrequin, 25/10/2021) Produsen pupuk megap-megap di zona Eropa, khususnya Inggris, karena lonjakan harga gas. (Fareed Zakaria, 21/10/2021) Harga gas alam di Asia bahkan 5 kali lebih mahal daripada harga gas alam di Amerika Serikat. (Kazuya Hiruta/Nikkei Asia, 28/10/2021)

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, merilis kajian September 2021. : lonjakan harga gas di Eropa dipicu oleh banyak faktor, antara lain lonjakan permintaan, pasokan terbatas, cuaca dingin, dan pelambatan energi angin di sejumlah negara Uni Eropa. Solusinya ialah tata kelola transisi ke sistem energi bersih. (CNN, 19/10/2021)

***

Krisis energi tahun 2021 juga memicu lonjakan harga-harga komoditas. Gambaran durasi dan intensitas krisis energi saat ini sangat nyata di Tiongkok. Oktober 2021, Tiongkok terperangkap pada ‘a massive power crunch’ atau krisis listrik skala besar. Akibat kekurangan batu-bara dan gas alam; pabrik macet dan rumah-rumah tanpa listrik; investasi sektor bahan bakar fosil menurun justru saat terjadi lonjakan kebutuhan bahan bakar skala global. (BBC News, 28/10/2021)

Sistem energi dunia masih bergantung pada batu-bara. (kiri) Lima unit pembangkit listrik berbahan bakar batu-bara, terbesar di Eropa, di Neurath, Cologne, Jerman, 12 Maret 2019 (foto: Reuters/ Wolfgang Rattay); (kanan) pembangkit listrik berbahan bakar batu-bara di Shenyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok, 29 September 2021 (foto: Tingshu Wang/Reuters)

Kurang pasokan solar mempengaruhi transportasi ekspor Tiongkok. Krisis pasokan bahan bakar dipicu oleh pandemi Covid; permintaan bahan bakar naik, ketika keran ekonomi mulai dibuka di Tiongkok. (Katie Silver, 28/10/2021). September 2021, pabrik-pabrik di 20 provinsi Tiongkok, dilanda krisis listrik. Jutaan rumah-tangga tanpa listrik. Produksi tersendat. Misalnya, produksi mobil Tesla asal AS di Tiongkok, tersendat. (Phillip Inman, 29/9/2021)

Pekerja tambang batu-bara di Tiongkok. (foto: Reuters)

Awal 2021, kapasitas generasi listrik Tiongkok naik sebesar 10%. Namun, Tiongkok mengalami kelangkaan batu-bara. Tiongkok mengurangi konsumsi batu-bara sejak 2017; hasilnya, konsumsi batu-bara ke sektor listrik turun dari 80% menjadi 50,8% tahun 2019. Namun, Tiongkok (selain India) tetap menjadi konsumen batu-bara terbesar dunia. Tiongkok melarang (tidak resmi) impor batubara asal Australia, eksportir batu-bara nomor dua dunia; karena kisruh sumber wabah pandemi Covid-19. Akibatnya, kebutuhan batu-bara Tiongkok, sulit dipasok dari impor dan produksi dalam negeri. (The Guardian, 29/9/2021)

Risiko lanjutan melanda Tiongkok. Antara lain, lonjakan harga bahan bakar memicu inflasi dan menekan standar hidup warga. Ini berisiko memicu gejolak sosial dan oposisi terhadap pemerintah Tiongkok. Paket kebijakan Presiden Xi Jinping tentang dekarbonisasi perusahan-perusahan raksasa (berat) Tiongkok, berisiko gagal. Sebab perusahan energi memproduksi listrik dengan batu-bara. Kontrol emisi dapat memicu lonjakan biaya produksi energi. ***

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.